|
ASIMILASI PEMBAURAN YANG BAKU Memang dalam proses penyatuan bangsa,pembauran tanpa memandang suku/etnis adalah yang hartis dilakukan dengan segala bentuk kegiatan. Apakah melakukan dalam kegiatan bhakti sosial, membentuk lembaga / perkumpulan bersama ataupun bisa melakukan perkawinan campur atau asimiliasi. Yang terakhir itu, kalau benar terjadi merupakan pembauran yang baku dan lebih langgeng, meski tidak setiap orang bisa melakukannya. Tetapi bagaimana bisa membangun sebuah keluarga hasil dari pernikahan asimilasi ? Ada sebuah profil yang kali ini kita tampilkan untuk memberikan pandangan yang kemungkinan cocok dengan dengan wacana kita,dimana justru saat sekarang ini merupakan moment yang penting untuk bisa melakukannya. Tetapi harus di catat bahwa lahir jodoh rezeki itu tetap ditangan Tuhan. Kendati demikian, sebagai umat Tuhan, kita tentu wajib untuk berusaha. Jhony Basuseno Dhewo (60 th) adalah seorang dari suku Jawa yang 33 tahun lalu menikah dengan Eriene Rachman dari suku Tionghoa. Ketemunya, sebagai anak manusia memiliki rasa cinta anak manusia yang berlawanan jenis. Kedua keluarga mendukung (meski tidak 100%) atas hubungan mereka. Keduanya tetap go head,karena memang sama-sama cinta,meski berbeda suku. Itu yang mendasarinya, meskipun sebenarnya tantangan yang dihadapinya tidak ringan dan tidak mudah diatasi. Tetapi keduanya memiliki prinsip, bahwa Cinta yang murni akan bisa mengatasi segalanya. Beda materi memang ada jauh sekali. Tetapi kesamaan nurani yang menjadi dasar pernikahan. Dalam setahun dua tahun memang sangat berat dijalani, bukan hanya pihak sang suami tetapi juga sang isteri. Itu merupakan sebuah perjuangan tersendiri. "Kami berdua melakukan adaptasi untuk meyakinkan kepada kedua keluarga saya,bahwa kami siap menghadapi apa yang terjadi didepan.", kata suami isteri itu kepada KOMUNITAS. Tetapi sang suami dari suku Jawa menyadari apa yang bisa dilihat dan harus diikuti isteri dan keluarganya yang memang Basuseno menceriterakan, itulah yang pertama tama yang ia lakukan, belajar dari mereka, bukan hanya bisnis tetapi juga budayanya. Etnis Tionghoa memang kebanyakan sebagai pekerja keras. Semula memang saya kaget, mertua saya sendiri sebagai pengusaha dibidang pakaian jadi. Bekerja luar biasa. Anak-anaknya semua bekerja untuk membantu orang tuanya, bukan hanya disiang hari saja, tetapi sampai tengah malampun bekerja. Dan dia sendiri, tentu saja ikut dan terimbas sebagai seorang "pekerja keras", sampai sekarang. "Mau tidak mau,itu harus saya lakukan. Kalau kita mau survive baik dalam bisnis ataupun dalam berkeluarga. Saya merasakan,bahwa suku Tionghoa benar benar sebagai orang pekerja keras,etos kerjanya memang luar biasa. Itu yang harus ditiru. Jadi jangan iri kalau hasil yang diperolehnya juga sangat besar,dibandingkan dengan hasil kebanyakan masyarakat suku Jawa,yang sering dan banyak berfilosofi "nrimo ing pandum ( Hanya mengharapkan rezeki tanpa kerja keras). Bagaimana dengan sang isteri?" Saya juga demikian, berusaha menyesuaikan diri dengan keluarga suami. Memang kalau soal materi berbeda jauh. Buat saya bukan itu persoalannya. Tetapi saya menikah dengan suami bukan karena materi, tetapi dasarnya cinta. Titik. Buktinya sekarang kami hidup baik-baik saja dengan tiga anak. Kami sepakat menikah, bukan berdasarkan etnis dan bukan karena harta. Semula juga kami sulit untuk menyesuaikan diri dari budaya Jawa, tetapi akhirnya kami berhasil juga, ujarnya bangga. Basuseno yang juga sebagai ketua DPD ASKARINDO Jatim mengajak, kepada semua suku yang ada di negeri ini agar instropeksi diri. Sering mereka mengatakan pembauran, tetapi itu cuma lips service saja yang diucapkan tidak sesuai dengan yang dijalankan. Itu sebuah kesalahan yang sering terlihat. Mereka berpendapat membaur karena sudah memberikan materi, tetapi dalam pergaulan tidak. Dalam lingkungannya mereka masih membuat pengkotakan. Jelas hal ini tidak benar. "Kalau kita mau membaur, sebagai warganegara Indonesia, kita harus benar benar mengedepankan negeri ini bukan negeri lain. Dia juga menyayangkan, apabila sekelompok yang terlalu menonjolkan sukunya, baik budaya, perilaku dalam keseharian. Itu menunjukan bahwa suku itu kurang bisa menyelami sebagai warganegara Indonesia secara benar. Kita harus sebagai warganegara lahir bathin secara benar. " ujarnya. Sebaliknya sang isteri, Eriene juga banyak belajar dari etnis suaminya, utamanya dalam hal etika, dimana etnis Jawa memang selalu menghormati "totokromo" dan yang sangat menghargai orang tua atau orang yang lebih tua dan sebagainya. "Saya banyak belajar dari budaya Jawa dan saya juga cepat beradaptasi dengan keluarga suami saya. Buktinya seluruh keluarga suami saya menerima dengan baik.Kami kira dalam kehidupan berkeluarga itu yang terpenting. Buah perkawinannya menghasilkan tiga anak masing masing Natalia Dhewi, Andreas Ardinanto Dhewo dan Niken Lintang Dhewi. Anak nomer duanya yang laki laki, sekarang sudah menjadi penerbang dengan pangkat kapten. "Semua ini merupakan hasil pernikahan asimilasi. Boleh orang mencibirkan, tetapi inilah yang kami maksud sebagai pembauran yang alami dan langgeng. Keberhasilan kami untuk menyatukan dua suku yang berbeda, karena kebersamaan dalam menilai masing masing etnis, berpikir positif dan tentunya kita tidak selalu saling menyalahkan",ujar Basuseno Dhewo. Dengan kehadiran ketiga anaknya yang sudah dewasa seperti itu, mereka merupakan buah asimilasi yang orang tuanya dari dua suku yang berbeda. Lebih dari itu,semua pihak harus menunjukkan prestasi dihadapan keluarga besar masing masing masing. Kalau ini dicapai,maka perjalanan pernikahan yang berbeda suku tidak akan ada masalah. Tetapi kalau sejak diawalnya sudah ada perbedaan, utamanya soal materi atau membedakan suku, tidak mungkin pernikahan akan bisa berlanjut dengan langgeng.Tetapi akan berantakan ditengah jalan. Ternyata dalam menyatukan bangsa dilingkungan paling kecil, yaitu pribadi warga masyarakat sendiri yang bisa berpikir positif tentang keberadaan suku yang banyak seperti itu, sehingga akan membentuk kelompok lingkungan kecil yang damai. Perbedaan suku sudah harus sadar untuk dihilangkan. Semuanya harus sadar, dirinya sebagai warganegara Indonesia Demikian juga dalam tutur kata ataupun sebangsanya harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah negaranya sendiri. Darimanapun asalnya,kalau kita lahir di Indonesia, itulah warganegara Indonesia, sebagaimana yang tertuang dalam Undang Undang Kewarganegaraan. Kita harus memandang kedepan, kebanggaan bangsa ini apabila dalam kedamaian meski terdiri dari ratusan etnis didalamnya. Semoga dengan disahkannya Undang Undang Kewarganegaraan akan memberikan berkah kehidupan bangsa Indonesia. Hak Sudah diberikan sekarang kewajiban kita dituntut. ( S) |
|
|