| PITI BUKAN LEMBAGA EKSKLUSIF Teringat Alm. Sarutomo, Cara Melakukan Syiar Islam Begitu dipilih sebagai Ketua PITI Jawa Timur, Edwin Suryalaksana, sudah menyiapkan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam mengembangkan lembaga ini. "Yang jelas, saya akan mohon petunjuk dari para senior, yaitu para penasehat, sesepuh yang sudah kaya pengalaman dalam mengembangkan PITI. Juga saya harus konsisten dengan misi dan visi PITI dalam anggaran dasarnya di Bab II pasal 5 dan 6," ujarnya. "Program saya tidak muluk-muluk, tetapi cukup realistis, misalnya bagaimana komunikasi antara wilayah dan daerah dapat terwujud dengan baik. Karena sebuah organisasi tanpa komunikasi yang harmonis tidak akan mampu menciptakan organisasi yang kondusif. Itu sebabnya kerjasama antara DPD-DPD dan DPW akan terus ditingkatkan. Yang jelas saya akan mengarahkan mereka untuk membaur ke masyarakat, sehingga citra PITI itu sendiri akan bertambah harum dan membuyarkan anggapan PITI sebagai organisasi yang eksklusif," tambahnya. SYIAR ISLAM Dalam melaksanakan syiar Islam, ia teringat dengan tokoh PITI di Mojokerto yaitu almarhum H. Sarutomo, pendiri PR Bokormas yang membangun suatu masjid sederhana dalam lingkungan pabriknya 20 tahun lalu. Saat itu, anggota PITI belum banyak, tetapi dari anggota yang sedikit itu dapat berbaur dengan masyarakat sekitar pabrik, antara lain selalu sholat berjamaah dan sholat Jum’at di masjid sederhana itu. Terasa sekali kerukunan antara anggota PITI dan masyarakat sekitarnya. Bahkan bukan itu saja, setiap ada kegiatan peringatan hari besar Islam, Bapak Sarutomo selalu mengikutsertakan masyarakat sekitar. Cara seperti ini yang merupakan syiar Islam, menyatu dengan masyarakat dengan tujuan akidah yang sama. Seperti diketahui, bahwa di Jawa Timur sudah ada 19 DPD, yaitu di Bangkalan, Banyuwangi, Surabaya, Bojonegoro, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Tuban, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Kab. Probolinggo, Probolinggo, Situbondo. Dari daerah-daerah ini, oleh ketua PITI Jatim yang baru akan dijadikan ujung tombak dalam melaksanakan syiar Islam di Jatim. Ia nampaknya tetap berpengang teguh pada prinsip, bahwa PITI tidak dan jangan sampai dibelokkan kearah politik, meskipun ada yang menghendakinya. "Saya tidak menghendaki PITI jadi lembaga politik. Namun saya memahami mungkin ada anggota atau pengurus yang memiliki afiliasi politik, silahkan saja, tetapi itu sifatnya pribadi. Jangan sesekali melibatkan PITI," tegasnya. Ayah dari seorang putra ini, sehari-hari bekerja di Sinarmas Group. Walaupun berada di perusahaan besar, tetapi masyarakat sekitar pabrik merasa dekat dengannya, karena ia mampu membina usaha-usaha masyarakat yang memerlukan uluran tangan. Beberapa jabatan diluar perusahaan cukup banyak menyita waktu, tetapi ia tetap konsisten menyediakan waktu untuk PITI, karena hal itu dianggap merupakan sebuah tanggung jawab serta ibadah sebagai umat.
|