Sempat Bimbang di Antara Dua Agama

Berliku jalan harus ditempuh Hj Lilik Waras Nasichah untuk menjadi muallaf. la bersyukur bisa melaluinya. Apalagi ia merasa menemukan kedamaian sejak memutuskan diri menjadi muslimah.

Nama kecil Lilik Waras Nasichah adalah Liem Waras Nio. Ayahnya bermarga Liem, sementari ibunya dari marga le. Keduanya adalah penganut Konghucu dan tinggal di Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Meski sejatinya bapak ibunya penganut Konghucu, Lilik kecil sering disuguhi pemandangan cara beragama yang tak biasa. Pada satu kesempatan ia melihat sang ayah mengantar ibunya beribadah ke kelenteng. Namun, di saat yang lain ia juga melihat ayahnya rajin sembahyang ke gereja Katolik.

Lilik pun terombang-ambing di antara dug keyakinan tersebut. Pada akhirnya ia mendapatkan ilmu dua agama tersebut.

Suatu ketika Lilik kecil mengalami kejadian yang tak akan dilupakannya sepanjang hayat. Saat itu dirinya mengikuti ayah dan ibunya berobat ke Kraksaan. Lokasi praktik dokter tersebut berdekatan dengan sebuah masjid.

Saat itu ia mendengar adzan ashar berkumadang. "Saya merasakan merinding ketika mendengar suara adzan. Saya menjadi sangat tenang," cerita Lilik mengenang masa itu. Karena merasa ada yang istimewa dengan perasaanya saat mendengar suara adzan, Lilik bertanya kepada sang ayah. Ayahnya pun mengatakan kalau suara itu adalah suara memanggil orang untuk sembahyang bagi orang Islam. "Karena itu saya selalu senang kalau diajak ayah dan ibu cek ke dokter. Saya selalu menikmati suara adzan itu. Maklum saja di rumah saya dahulu di Dringu masih jarang masjid. Suara adzan pun jarang terdengar sampai di rumah” beber Lilik.

Lilik pun mulai penasaran dengan Islam sejak mendengar suara adzan tersebut. Saat itu usianya sekitar 8-9 tahun. Namun dirinya tidak bisa mengetahui banyak tentang Islam, karena mayoritas keluarganya adalah nonmuslim.

Lilik pun mendapatkan pendidikan di sekolah Katolik dari SD hingga SMA. Saat itu dalam mata pelajaran agama, Lilik selalu mendapatkan nilai di atas rata-rata. Meski mendapatkan nilai yang sangat bagus pada pelajaran Katolik, Lilik mengaku tidak pernah dibaptis. Karena memang kepercayaan kedua orang tuanya saat itu masih antara Konghucu dan Kristen.

Suatu ketika ayahnya bekerja dobel, selain buka toko ayahnya juga nyambi menjadi supir jamaah haji. Sering kali ayahnya mengangkut calon jamaah dari Probolinggo ke Juanda, Surabaya. Suatu ketika dirinya menemukan sebuah buku kecil dengan judul Sendi Agama Islam. Buku tersebut diyakininya berasal dari calon jamaah haji yang pernah menaiki mobil ayahnya. Dari situlah Lilik mulai belajar sedikit tentang Islam.

Pertanyaan – pertayaan nakal dari kegelisahannya selama ini terkait keyakinan diakuinya banyak terjawab dari buku berukuran kecil dengan sampul warna biru tersebut, “Saat membaca buku itu timbul di hati tentang keyakinan kebenaran Islam,” akunya.

Belum lagi saat itu dirinya yang masih SMA juga memilik teman sekelas bernama Ibrahim yang juga seorang muslim. Menurut Lilik, Ibrahim, merupakan contoh muslim yang taat dan berperilaku sangat terpuji. Dirinya juga banyak mendapat ilmu agama Islam dari temannya tersebut. Tapi saat itu Lilik belum juga berani pindah keyakinan. Usai lulus dariSMA Kristen, Lilik melanjutkan sekolahnya di Perguruan Tinggi Ilmu Hukum (PTIH) Probolinggo.

Di perguruan tinggi tersebut Lilik juga kembali banyak menggali ilmu tentang Islam. Saat itu dirinya mendapatkan mata kuliah rutin Islamology yang di asuh oleh dosen alm Pardi Djuenaed.

"Sejak mendapatkan ilmu itu, letupan – letupan tentang Islam semakin menguat di hati. Karena saya mengenal Islam secara logika. Tetapi sayang pemahaman saya tentang Islam dari PTIH tak berlangsung lama, karena tahun 1967 PTIH bubar karena saat itu kondisi Indonesia sedang terguncang. Saya sendiri terpaksa DO (drop out),” kenangnya sambil menerawang.

Saat Lilik keluar dari PTIH, dirinya masih belum menjadi muslimah. Karena saat itu ia belum siap menghadapi tekanan dari keluarga, terutama ayah dan ibunya.

Tahun 1968, Lilik menikah dengan salah seorang aktivis gereja sekaligus pendeta yang masih kerabatnya sendiri. Karena suaminya adalah seorang pendeta maka perdebatan soal agama pun terus berlanjut di sela – sela kehidupan rumahtangganya. Sampai mereka dikaruniai 4 anak, perdebatan agama tetap saja muncul.

Dari 4 anak Lilik, hanya si bungsu Indah yang mengenyam pendidikan umum. Tiga yang lain mendapat pendidikan Kristen.

Rasa penasaran Lilik terhadap Islam ternyata tertular kepada anak – anaknya. Putri keduanya, Devi Setiawati, mulai belajar mengaji secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya empat anaknya sangat ingin belajar tentang Islam. Tetapi saat itu suasana keluarga masih belum cukup kondusif. Karena itu baik Lilik maupun keempat anaknya mencoba bertahan.

Tahun 1978 dan 1979, Lilik mendapatkan musibah. Ayah dan lbunya meninggal. Sang ayah meninggal tahun 1978, disusul kemudian sang ibu setahun berikutnya. Usai kedua orang tuanya meninggal itulah Lilik mantap masuk Islam. Sekitar tahun 1982, Lilik memutuskan bercerai dengan suami. Alasannya jelas, sang suami tidak mau mempunyai istri yang berbeda keyakinan. Lilik pun tetap mantap masuk Islam, begitu juga empat anak lainnya.

"Syukur Alhamdulillah saya sudah diberi kesempatan menunaikan ibadah haji tahun 2001. Anak dan beberapa menantu juga banyak yang haji" ujarnya. Kini Lilik benar-benar merasakan kedamaian hidup sebagai muslimah. Sambil menikmati hari tuanya, ia menjadi distributor buku-buku bacaan Islam. Bila Ramadan tiba, ia juga berjualan kurma di rumahnya.
(muhammad fahmi/nyo)
Untuk Kaya, Berdermalah
Lan Fang: Anak Naga Beraroma Melati
Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia
PITI Bukan Lembaga Eksklusif
Asimilasi
Mualaf: "Saya Lega Masuk Islam....."
Nanik Lusetiyani S.Sos
Toko SERBA ADA
H. Haritrianto, Pemeluk Konghucu
H. Moch. Anton
Analogi Ayam Manusia
Setahun Mualaf, Diundang Raja Fahd
Bagiku, Islam adalah Kesejukan
Cahaya Hati, Taklukkan Nafsu
Bebaskan Anak Memilih
Kongkret Mencintai Indonesia
Kartika Damayanti
Liau Hariyanto
H. JUSUF SATRYO (TIO SIEM KING)
H. BAMBANG IRAWAN, SE
Ustad Drs.H.A.Syaukanie Ong (Wang Li Fu/Ong Lie Fu)
Kisah Muallaf dari Probolinggo-Pasuruan
Bernazar Naik Haji, Tak Jadi Bangkrut
Drs. KH. M. Syukron Djazilan, M.Ag
«
September - 2010
»
Sun Mon Thu Wed Thu Fri Sat
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930
Holiday
Event
Pengajian Rutin
Melalui newsletter anda dapat memperoleh informasi terbaru mengenai aktifitas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia secara online!
www.moslemtionghoa.com
Home  |  About Us  |  Galleries  |  Articles  |  News & Event  |  Profile  |  Business Net  |  Sitemap  |  Contact Us
© 2007-2010 Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. All Right Reserved.