|
LAN FANG: ANAK NAGA BERAROMA MELATI Merasa sebagai anggota masyarakat "minoritas" dalam mayoritas (dulu) tidaklah mudah. Bahkan masyarakat mayoritas (saat itu) menganggap golongan minoritas sebagai masyarakat level dua. Sebagaimana yang dirasakan suku Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Padahal mereka merasa sebagai manusia Indonesia seutuhnya dan di mata Allah memiliki perasaan naluri yang sama,berbudaya luhur layaknya suku-suku di Indonesia lainnya. Perbedaan yang mendasar ini dirasakan juga oleh Lan Fang, novelis asal Surabaya yang pernah memproduseri sinetron Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ia sering menjembatani problem perbedaan yang dirasakan banyak suku Tionghoa di Indonesia, dengan seringnya menjadi pembicara-pembicara dalam berbagai forum Ia menjawab KOMUNITAS dalam sebuah kesempatan yang santai. Apakah Anda merasakan langsung dampak sebagai golongan minoritas? "Bukan hanya saya saja,tapi hampir semua suku Tionghoa keturunan di Indonesia. Namun kita juga bersyukur sejak Gus Dur membuka belenggu kebebasan berbudaya, kita bisa merasakan banyak hal. Bayangkan 32 tahun kita tidak bisa berakulturasi, kita hanya dianggap golongan minoritas kelas dua, yang tidak diperbolehkan duduk dalam pemerintahan, politik, militer, Hankam, kedokteran dan sebagainya. Padahal kita juga bagian dari bangsa Indonesia. Yang turut memajukan bangsa. Dan waktu sepanjang itu yang diperbolehkan bagi golongan suku Tionghoa hanyalah bergerak di bidang ekonomi. Tidak perlu dipungkiri bahwa hampir semua sektor ekonomi dikuasai mereka. Tidak pula bisa disalahkan bila kerajaan bisnis mereka pun menggurita. Jika dulu suku Tionghoa diberi kesempatan sama duduk di segala bidang pasti kemajuan ada di semua sektor. Masalahnya karena tidak ada kesempatan. Bagaimana awalnya anda merasakan perbedaan itu? "Sebuah pengalaman,ketika saya duduk di kelas 4 SD, sering mendapat tugas mengajar anak-anak TK di lingkungan sekolah. Kebetulan sekolah TK tersebut kekurangan guru mengajar, jadi murid-murid SD-lah yang membantu. Pada awalnya tidak ada masalah yang berarti. Tapi pada suatu hari, anak-anak TK itu meninggalkan kelas ketika saya masuk. Usut punya usut ternyata ada salah satu anak dokter yang mengatakan pada teman-temannya, kalau saya ini dari suku Tionghoa dan jangan mau diajar orang Tionghoa. Perasaan saya hancur dan saya menangis sepanjang hari. Saya baru menyadari bahwa saya ini berbeda dengan yang lain. Tatkala saya kuliah dan saya juga menerima perlakuan yang tidak semestinya. Bagi saya tidak masuk di Universitas Negeri, tidak masalah. Dan ketika saya lulus SMA dan menerima SKBRI, saya memutuskan tidak akan pernah mengganti nama saya, Lan Fang. Saya satu-satunya mahasiswa di Universitas Surabaya yang memakai nama asing, kala itu. Bagaimana menyikapi perbedaan mendasarseperti itu? "Bagai Anak Naga Beraroma Melati, yakni tetap menyadari sebagai orang suku Tionghoa Keturunan Indonesia di Indonesia dan sudah seharusnya mencintai Bumi Nusantara. Kita ini orang Tionghoa generasi bingung. Banyak anak-anak kita yang nggak ngerti Bahasa Mandarin, walau sekarang mulai gencar diajarkan di semua sekolahnya. Walau bagaiamanapun kita tetap tidak bisa melupakan nenek moyang dan leluhur. Kita menyadari sepenuhnya,bahwa kita bukan sekedar warga negara tapi sepenuhnya berjiwa Indonesia. Jangan mempertajam perbedaan. Membangun bangsa bersama-sama ini lebih bijak. Akulturasi budaya Tionghoa dengan budaya asli disini sedang berlangsung. Pendapat Anda? "Kita memiliki "Bhineka Tunggal Ika". Berbeda-beda suku tetap satu juga. Warga Indonesia keturunan Tionghoa juga bagian dari perbedaan itu. Budaya Tionghoa juga salah satu bagian dari Bhineka Tunggal Ika. Memang pembauran yang paling halus itu lewat budaya, kalau sisi lain seperti politik, agama, dan ekonomi terlalu tajam. Lihat saja yang sekarang ini teqadi dalam masyarakat kita. Kesenian barongsai marak ditarikan dimana-mana dan penontonnya dari berbagai suku dan lapisan Bahkan para penari barongsai tidak hanya dari suku Tionghoa saja, tapi juga etnis lain. Selain itu, beberapa kegiatan di Klenteng misalnya juga dibantu penduduk setempat yang berbeda suku. Jelas sudah jika pembauran budaya itu masuknya lebih mudah. Harapan anda sebagai Indonesia suku Tionghoa di masa mendatang? "Hapuskan trauma-trauma masa lalu. Tidak ada lagi diskriminasi. Warga Tionghoa berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan semua lapisan masyarakat Indonesia. Sebagaimana dalam UUD 45 yang menyebutkan bahwa semua warga negara mempunyai hak clan kewajiban yang sama. Undang-Undang Anti Diskriminsi perlu dibuat. Di sisi lain warga Tionghoa wajib memberikan yang terbaik untuk negeri tercinta Indonesia clan tentunya bukan ke negara lain. (Aprilia NS) |
|
|