|
Jos Soetomo, Ketua Dewan Pembina Yayasan Cheng Hoo Kemegahan rumah di kawasan elite Puncak Permai itu menandakan bahwa secara ekonomi pemiliknya sangat berkecukupan. Dua kapling berdampingan seluas 800 meter persegi, salah satunya dibuat khusus untuk taman dan perkebunan yang asri. Tapi begitu bertemu sang tuan rumah yang bernama Jos Soetomo, kesan pria kaya raya langsung sirna. Sosok yang menjabat sebagai ketua dewan Pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia itu sangat ramah. Penampilannya begitu bersahaja dan sederhana. Berbicara dengannya juga sangat menyenangkan. Tak ada kesan sombong sedikit pun. Gaya bicaranya meledak-ledak. Sesekali diiringi tawa dan canda. Dia sangat terbuka dalam berbagai topik pembicaraan. Mulai filsafat, kenegaraan, nilai-nilai luhur. hingga urusan perut. Untuk mencapai kemapanan hidup seperti sekarang, pria yang akrah dipanggil Jos itu harus melalui perjalanan hidup yang teramat panjang dan penuh perjuangan. Bermula dari kegigihannya dalam menjalani kehidupan, berdirilah Hotel Bumi Senyiur di Samarinda dan Hotel Gran Senyiur di Balikpapan. Usahanya terus berkembang hingga belum lama ini pemilik PT. Sumber Mas Group tersebut berekspansi ke Jawa. Dia membangun Hotel Royal Senyiur di kaki Gunung Welirang, Kecamatan Prigen, Pasuruan. Jawa Timur.
PT Sumber Mas miliknya itu awalnya bergerak di bidang perkayuan. Kini, suami Nur Hayati tersebut menjadi induk dari lima perusahaan perkayuan. Yaitu. PT. Kayan River Industries Plywood (KRIP). PT Meranti Skate Indah Plywood (MSIP). PT Meranti Sakti Indonesia (MSl ). PT Dirga Rimba, dan PT. Estetika Rimba. Pria yang menjadi mualaf pada 1972 itu mengatakan. semua yang diraihnya di dunia ini tidak datang secara tiba-tiba. Ada yang mengatur. "Yaitu. Tuhan yang Maha Esa. Tapi, manusia wajib berusaha dan umuanya harus didasari dengan Bismillah," katanya.
Selain itu, tambah dia, setiap orang sebetulnya teals dikaruniai talenta oleh Tuhan. "lbaratnya, talenta itu pistol. Alat itu bisa digunakan untuk merampok atau sebaliknya, menjaga keamanan. Pilihan itu ada pada kita," ujarnya. Satu hal yang tak pernah dilupakan ayah 12 anak tersebut adalah bersyukur dengan pemberian Allah SWT.
Dia merasa saat ini Iebih dari cukup. Bagi dia, kondisi itu merupakan kekuatan yang bisa digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Karena itu, pria kelahiran 4 April 1945 tersebut berusaha selalu mengobarkan semangat kepada sernua orang dalam melakoni hidup ini. Sebab, dia ingin jiwanya selalu dikenang oleh orang lain. Apa gunanya, kata dia, jika umur panjang, sedangkan jiwa kita tidak bisa mewarnai hidup manusia lain. "Seperti Nabi Muhammad SAW, usia 63 tahun beliau wafat, tapi pamor jiwa. dan semangatnya tidak pernah mati." paparnya. Manusia, tambah dia, jangan takut meninggal dunia. "Jika takut, justru tidak sesuai dengan semangat awal untuk apa manusia minta diturunkan ke dunia," paparnya. Dia mengibaratkan adanya cahaya lampu di sebuah ruangan itu berasal dari Tuhan. Maka, manusia harus mencari saklarnya untuk bisa mcnghidupkan lampu. Bagaimana bisa menemukan tombolnya? Jalannya, antara lain, hormati orang tua, ingat orang miskin, dan sembahyang. "Tanpa kebaikan Tuhan, saya tidak akan seperti sekarang ini. untuk itu, temukan kunci atau tombol-tombolnya. Sekuatkuat kalian mencari uang, sekuat-kuat itu pula kamu beramal. Tidak semua orang bisa menjadi pilar. Tetapi, jadikanlah dirimu pilar yang bisa memberikan harapan." ucapnya. Dia mengatakan, jika ingin sukses, jangan memanggil ahli nujum atau percaya dengan feng-shui. Kunci sukses didapat Jos dari iqro (membaca). Menurut dia, penyakit hati seperti dengki, sirik, ketamakan, kesombongan. dan sebagainya harus dicampakkan dari hati manusia. Penyakit yang satu ini bisa membuat hati tak bercahaya. Ketika hati tak bercahaya, pikiran tak mampu menaklukan nafsu. "Kita harus membedakan antara perlu dan pingin. Kalau perlu, harus dijalankan. Tapi. kalau keinginan, harus diatasi," tuturnya. Dia berprinsip bahwa menanamkan kebaikan seperti spirtus. Sedangkan kejelekan meniru solar. "Artinya, rnenularkan kebaikan harus cepat ketika spirtus dinyalakan dengan api. Tapi, kejelekan seperti solar yang agak lambat," ujarnya. TENTANG Lahir: Kutai Kertanegara, 4 April 1945 Istri: Nur Hayati (59 tahun) Ortu: Kang Jan Liong (alm) dan Merry Sulistyo (aim) Anak keenam di antara delapan bersaudara Anak: 12 Pekerjaan: Chairman Sumber Mas Group
|
|
|