Syaukanie Ong (Wang Li Fu), Ustad Dewan Pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Analogi Ayam Manusia Peletakan Batu Pertama Jadi Momen Berharga Syaukanie Ong sekarang menjadi salah seorang anggota Dewan Pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo, yayasan yang membiayai seluruh operasi Masjid Muhammad Cheng Hoo. Menurut sosok yang akrab disapa Ustad Ong itu, ide pendirian masjid dengan latar Tionghoa itu sebenarnya lahir dari kepedulian umat muslim Tionghoa terhadap budaya mereka. "Idenya dari Bapak Bambang Sujanto,"katanya merendah. "Tujuan utama pembuatan masjid itu'ingin membangun masjid yang membuat warga Tionghoa merasa nyaman," ungkapnya. Selain itu, mereka ingin mengajak warga umum untuk lebih mengenal budaya Tionghoa yang berkolaborasi dengan budaya Islam. "Budaya Islam itu sangat fleksibel, bisa masuk ke dalam budaya apa pun," tambahnya. Dari ide-ide itu, Syaukanie dan teman temannya di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) membuat yayasan yang bertujuan untuk mendanai pembangunan Masjid Cheng Hoo. "Semua dana pembangunan dikelola secara professional dan modem," katanya. Peletakan batu pertama Masjid Cheng Hoo pada 15 Oktober 2001 merupakan momen berharga bagi Syaukanie dan teman-temannya. Dari masjid yang namanya diambil dari panglima perang Tiongkok itu, Syaukanie dan teman-temannya lebih dikenal banyak orang. Berkumpul Menyehatkan Jiwa Hidup itu seperti air yang mengalir. Ungkapan tersebut meluncur dari bibir Ustad Ong saat ditanya cara menjaga kesehatan di usia yang sudah tidak lagi muda. Ustad yang dikenal baik oleh tukang becak di sekitar rumahnya itu merasa tidak pernah memiliki tip khusus untuk menjaga kesehatannya. Dia lebih senang makan dan minum sebagaimana mestinya Menurut bapak kelahiran 1 November 1958 tersebut, kesehatan jiwa lebih penting daripada kesehatan jasmani. "Bila jiwa kita sakit, jasmani kita akan sakit juga," tutumya. Dia menambahkan, cara termudah untuk tetap sehat adalah berkumpul dengan banyak orang. "Dengan mendengar cerita mereka, saya dapat terhibur," katanya. Namun, lanjut dia, jangan pemah memilih milih dalam berkumpul agar tidak mendengar cerita dan pengalaman yang sama. Selain itu, Ustad Ong menyatakan, berkumpul dengan banyak orang membuat kita bisa menyiarkan dan menyaksikan ajaran Islam yang penuh damai. "Supaya yang tidak mengerti jadi mengerti, dan yang tidak pernah salat jadi mau salat," ujarnya, menutup pembicaraan. Syaukanie Ong (Wang Li Fu) atau yang lebih dikenal dengan Ustad Ong merupakan salah seorang di antara sekian banyak muslim yang sangat berpegang teguh pada ajaran agamanya. Stereotip mengenai Islam yang cenderung negatif memudar berkat sahabat dekatnya. ONG yang kini berusia 50 tahun masih ingat betul susahnya hidup di kota kecil di Kalimantan Timur, tepatnya di Kota Tanah Grogot. Sebab, perbedaan suku, agama, dan ras (SARA) di Tanah Grogot kerap memicu bentrok antarwarga. "Bahkan, saya sering merasa benci pada orang yang beragama Islam,"ujar Ong. Menurut dia, saat itu, penganut Islam tidak pernah diajari toleransi kepada sesama. Dia mencontohkan, waktu masih sekolah, dirinya sangat sering diejek temannya. "Sangking banyaknya, saya sampai lupa mereka suka mengolok olok saya apa," ungkap lelaki keturunan Tionghoa itu. Hingga kelas dua SMA, ustad kelahiran 1958 itu tidak pernah memiliki sahabat dekat. Kecuali teman sebangkunya, Mujiono. Dari Mujono yang merupakan keturun an Jawa itulah Syaukanie remaja banyak mengenal agama Islam. "Dia satu-satunya orang yang sangat baik kepada saya. " Hubungan mereka sudah seperti saudara. Tidak jarang, Syaukanie ikut bermalam di rumah Mujiono. "Biasanya, kami mengerjakan tugas bersama. Bila terlalu malam, saya pasti menginap di rumahnya," kenangnya. Syaukanie yang saat itu begitu membenci orang Islam perlahan memudar karena melihat Mujiono sahabatnya. "Dia memang berbeda dari orang-orang yang lain. 'Dia bisa mencontohkan bagaimana Islam itu sebenarnya,"tegasnya. Mujiono juga mampu memperlihatkan bahwa Islam adalah agama yang berbeda dari yang dibayangkan dirinya selama ini. Salah satu kebiasaan Mujiono yang terpatri di benak Syaukanie adalah salat subuh. "Saya tersentuh melihat dia sudah duduk untuk salat pagi-pagi," ujar lelaki yang saat itu bersekolah di SMAN 1 Tanah Grogot tersebut. Hal itu membuat Syaukanie penasaran. Menurut dia, mengapa Mujiono harus bangun sepagi itu dan berdoa? Sementara, dirinya hanya bangun tanpa berbuat apa-apa. "Saya berpikir, ayam bangun pagi, teman saya juga bangun bagi. Tapi, yang membedakan dia dari ayam, dia salat mencari Allah," katanya. Analogi ayam itu membuat Syaukanie merasa bahwa dirinya juga perlu meniru Mujiono. "Itulah yang membedakan manusia dari hewan. Manusia bangun pagi hanya mencari Allah, sedangkan hewan bangun pagi karena kebiasaan saja,"ungkapnya. Sejak itu, pemilik nama asli Wang Li Fu tersebut tertarik mempelajari Islam. "Pelajaran pertama yang saya dengarkan adalah cara menyembelih hewan korban. Islam itu ternyata agama yang penuh kasih dan universal."jelasnya. Akhirnya, pada 1979 saat Ramadan, Syaukanie yang waktu itu berusia 19 tahun memutuskan memeluk Islam sebagai agamanya. Dengan mengundang beberapa kiai serta ulama di Kota Tanah Grogot, dia mengucapkan kalimat syahadat. Keluarga yang terus mempertanyakan pilihan Syakanie mampu diatasi. "Saya tidak menyalahkan mereka. Sebab, kita umat Islam sendiri sering tampak tidak baik,"ujarnya. Setelah lulus SMA, ustad yang terkenal kritis itu berencana masuk ke Pondok Gontor di Jawa Timur. "Saya disarankan Mujiono memperdalam ilmu Islam di sana," katanya. Keinginan itu pun terwujud. Menurut dia, keberhasilannya masuk pondok yang terkenal paling modern di Indonesia tersebut adalah berkah Tuhan. "Kebetulan, tes bahasa Arab yang diujikan kepada saya adalah bahasa Arab yang sudah saya hafalkan,"ungkapnya' lantas tersenyum. Syaukanie memang tidak menyelesaikan sekolah di Pondok Gontor. Namun, dia langsung meneruskan sekolah di Fakultas Ilmu Agama dan dakwah (FIAD) Universitas Muhammadiyah Surabaya.  |