Bernazar Naik Haji, Tak Jadi Bangkrut

Menikah secara Islam di KUA tidak niscaya membawa Tyan Tong Hien alias Muhammad Edy Saputra menjadi muslim yang kaffah. Ia masih menjalani ibadah lamanya sebagai pemeluk Konghucu.

Namun, semua itu berakhir ketika ia tiba - tiba tergerak hati untuk menunaikan ibadah haji.

Pergaulan masa kanak-kanak di lingkungan rumahnya di Desa Alastengah. Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo membuat Tyan Tong Hien tak asing dengan Islam.

Walaupun keluarganya penganut Konghucu. Namun dalam kehidupan sehari-hari Tyan banyak bergaul dengan kumunitas muslim. Maklum tetangga dan teman-temannya mayoritas beragama Islam.

"Saya selalu ikut ngaji di musala dengan teman-teman. Tapi hanya ikut-ikutan. Saya sendiri tidak mengaji" akunya.

Ketertarikannya kepada Islam kian menebal seiring usainya yang beranjak remaja-Saat itu Tyan dipercava banyak orang untuk mengantar dan menguruskan keperluan menunaikan ibadah haji. "Banyak orang kalau mau naik haji minta antar ke saya untuk mendaftar ke bank. Itu terjadi selama beberapa tahun" jelasnya.

Dan sekedar jadi pengantar. lama-lama Tyan penasaran la ingin merasakan kenikmatan menunaikan ibadah haji sendiri. "Dalam hati berkata, kalau saya punya uang, saya ingin naik haji. Saya ingin tahu nikmatnya naik haji. Semoga saya bisa naik haji juga nantinya" katanya mengenang masa itu.

Layaknya kaum remaja pada umumnya, tahun 1978 Tyan bertemu dengan sorang perempuan yang cocok dengan selera hatinya. Perempuan itu bernama Ome May lan.

“Setelah hubungan kami disetujui kedua orang tua, pada tahun 1988 kami menikah. Kami menikah di KUA” ceritanya

Oleh pihak KUA Krakasan, saat akan menikah nama keduanya diubah nama islami. Tyan Tong Hien menjadi Muhammad Edy Saputra. Sementara Ome May Lan diubah menjadi Nanik Melani.

Namun, hanya kedua namanya saja yang berubah. Meski sudah menikah secara slami, Tyan dan Ome may itu tetap menjalani ibadah menurut Konghuchu.

”Nikah di KUA kepada H Baidawi sebagai ketua KUA Krakasan saat itu hanya secara simbolis saja. Kalau agama tetap Konghucu. Karena waktu itu agama Konghucu masi belum di akui menjadi agama di Indonesia” kata lelaki yang lahir pada 8 Februari 1955 ini.

Baru pada tahun 1992, saat hendak menunaikan haji, pasangan suami istri (pasutri) ini serius belajar tentang ajaran agama Islam. Mulai cara sholat dan Ibadah yang lain.

Kehidupan pernikahan pasutri ini boleh dibilang adem ayem. Satu hal yang serng membuat pasangan ini resah hanya kehidupan ekonomi mereka yang sering mengalami pasang surut.

Puncak kerisauan itu terjadi ketika pabrik tegel yang dikelola Tyan terancam bangkrut karena over pruduksi. Tegel produksinya menumpuk tak terjual, Padahal ongkos produksinya, sangat mahal. "Yang saya rasakan saat itu, Tegel masih banyak, namun tetap tidak merugi. Saya tidak begitu berat bila usaha saya bangkrut. Hanya beberapa karyawan saya kasihan sama saya melihat tegel masih banyak tak terjual. Karyawan pada khawatir saya bangkrut dan tidak bisa membayar gajinya" katanya.

Namun, berkat kebesaran AIlah, semua kesulitan itu bisa terlewati. Saat melihat banyak tumpukan tegel di tokonya, Tyan sempat berjanji dalam hati kecilnya. "Kalau tegel ini laku semua, saya pakai untuk ongkos, naik haji dengan istri;" ujarnya.

Setelah enam hari peristiwa itu, tiba-tiba Tyan mendapat telepon dari seorang temannya dari Besuki. Subhanallah, sang teman ternyata betanya apakah tyan punya stok tegel di tokonya. Tyanpun menjawab bahwa ia punya stok yang banyak "Kalau gitu saya mau beli dengan jumlah banyak. Karena saya menangani proyek;" kata Edy menirukan perkataan temannya kala itu.

Sejak saat itu Tyan makin percaya bahwa Allah Maha Pemurah dan Penyayang serta pemberi rezeki kepada hambaNya." Jika kita berusaha dan berdo`a, keinginan kita akan tercapai;" kata ayah tiga anak ini kepada Radar Bromo

Karena stok tegel yang ada di tokonya itu terjual semua, Edy dan Nanik Melani langsung mendaftarkan diri ke bank Bumi Daya di Kota Probolinggo(saat ini menjadi Bank Mandiri).

"Saat itu, tahun 1993. ongkos naik haji satu orang, Rp 6,3 juta” katanya mengenang.

Karena sudah resmi mendaftar dan membayar ONH Tyan dan istrinya mulai belajar ilmu agama. Baik melalui buku atau belajar kepada teman–temannya yang beragama Islam. "Baik itu tentang cara salat syarat dan rukun menunaikan ibadah haji dan sebagainya" Ujar laki-laki yang kini tinggal di Jl. MT Haryono No 382 Semampir, Krakasan ini.

Ketika hendak berangkat haji, Nanik dalam keadaan hamil. Tentu saja dia mengalami kendala dalam melaksanakan syarat dan rukun haji. Untungnya tyan punya teman dibagian Kesra di Jawa Timur yang membantu melancarkan proses administrasinya.

Tyan kemudian berangkat naik haji bersama istrinya. Saat menjalani ibadah haji pertama, ia dan istrinya menghadapi sejumlah kendala. Ketika melempar jumrah, istrinya kesulitan. Lemparan batu pertama gagal. Lemparan Batu kedua juga gagal. Karena kejadian itu ia pun sempat ”protes” kepada Allah. ”Ya Allah istri saya melontar jumrah saja mengalami kesulitan luar biasa. Kenapa ya Allah?” ujarnya waktu itu.

Dari kejadian itu Tyan kemudian bernadzar. Kalau istrinya berhasil melontar jumrah dan rukun haji lainnya, ia akan berangkat haji lagi ditahun berikutnya. ”Setelah yang ketiga, akhirnya istri saya berhasil melempar jumrah. Alhamdulillah sukses,” ujar lelaki yang kerap di sapa Edy setelah masuk islam ini.

Tak hanya ketika melempar jumrah. Nanik dan Edy menemukan keajaiban Tuhan. Saat melakukan tawaf dan sa`i di Arafah keduanya mengaku bisa menjalankan rukun haji dengan lancar dan tidak ada kendala. Keduanya lancar saja melaksanakan rukun haji itu.

Rupanya, nadzar dan doa Edy untuk kembali ketanah suci itu terkabulkan. Tak hanya sekali, Edy dan Nanik dapat menunaikan ibadah haji sebanyak empat kali. Yaitu tahun 1983, 1996, 1999, dan 2004.

”Tahun 2007 saya hanya beribadah umrah saja dan berangkat sendirian, tidak bersama istri,” ceritanya.

Menurut Edy keberhasilannya berangkat ke tanah suci itu tak lepas dari kuasa ilahi, ”Allah pernah berkata, kalau datang kerumah KU, maka akan aku ganti berlipat – lipat ganda. Janji Allah itu terbukti dengan keberhasilann saya ketanah suci lebih dari sekali,” terangnya. (yatimul ainun/nyo)
Untuk Kaya, Berdermalah
Lan Fang: Anak Naga Beraroma Melati
Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia
PITI Bukan Lembaga Eksklusif
Asimilasi
Mualaf: "Saya Lega Masuk Islam....."
Nanik Lusetiyani S.Sos
Toko SERBA ADA
H. Haritrianto, Pemeluk Konghucu
H. Moch. Anton
Analogi Ayam Manusia
Setahun Mualaf, Diundang Raja Fahd
Bagiku, Islam adalah Kesejukan
Cahaya Hati, Taklukkan Nafsu
Bebaskan Anak Memilih
Kongkret Mencintai Indonesia
Kartika Damayanti
Liau Hariyanto
H. JUSUF SATRYO (TIO SIEM KING)
H. BAMBANG IRAWAN, SE
Ustad Drs.H.A.Syaukanie Ong (Wang Li Fu/Ong Lie Fu)
Kisah Muallaf dari Probolinggo-Pasuruan
Bernazar Naik Haji, Tak Jadi Bangkrut
«
March - 2010
»
Sun Mon Thu Wed Thu Fri Sat
123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
2829 
30 
31
Holiday
Event
Pengajian Rutin
Melalui newsletter anda dapat memperoleh informasi terbaru mengenai aktifitas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia secara online!
www.moslemtionghoa.com
Home  |  About Us  |  Galleries  |  Articles  |  News & Event  |  Profile  |  Business Net  |  Sitemap  |  Contact Us
© 2007-2010 Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. All Right Reserved.