MENGAPA masjid milik Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) ini dinamakan Haji Muhammad Cheng Hoo? Willy Pangestu, salah satu pengurus PITI Jatim, mengatakan, pihaknya ingin mengenang kebesaran nama Laksamana Cheng Hoo. Dia merupakan pejabat yang berkeliling dunia untuk melkukan pertukaran budaya, berdagang, sekaligus syiar agama Islam. “Menurut sejarah, Cheng Hoo lebih dulu berlayar ketimbang Christoper Columbus,” papar Willy Pangestu. Dalam buku Sam Poo Kong di Indonesia karya Prof Kong Yueng disebutkan, nama Haji Muhammad Cheng Hoo atau Laksamana Haji Cheng He atau Ma Zheng He, cukup akrab di telinga masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Hanya saja, mereka lebih mengenalnya sebagai Sam Po Kong. Sedangkan orang Jawa menyebutnya Dampo Awang. Dunia internasional mengakui ekspedisi bahari yang dilakukan Cheng Hoo mempunyai nilai sejarah yang cukup besar. Bahkan nilanya tak kalah dengan ekspedisi Marcopolo atau Columbus yang menemukan benun Amerika. Ekspedisi pertama Cheng Hoo dilakukan 11 Juli 1406 Masehi, berlangsung beberapa kali selama hampir 27 tahun. Kala itu, Cheng Hoo yang memimpin 28 ribu personel dengan 200 kapal dalam berbagai ukuran melabuhi 38 negara di Asia-Afrika. Ekspedisi ini mampu mendorong hubungan bilateral dalam bentuk politik dan perdagangan antara kekaisaran Tiongkok dengan negara-negare yang dikunjungi. Hasil paling nyata dari ekspedisi Laksamana Cheng Hoo adalah terbukanya jalur sutera dan keramik. Dari tujuh kali ekspedisi yang dilakukannya, Cheng Hoo selalu melintasi perairan Indonesia. Wilayah yang pernah disinggahinya antara lain Jawa, Palembang, Aceh, Lamuri, Nakur (Batak), Lide, Aru, Tamiang, Pulau Bras, Pulau Lingga, Kalimantan, Pulau Gelam, Pulau Karimata, Pulau Biliton. Di Jawa, bersama anak buahnya, Chong Hoa mendirikan sejumlah masjid dan musala. Basil karya monumentalnya, antarn lain, masjid di Gedung Batu Semnrang-sekarang dikenal sebagai Kelenteng Sam Poo Kong dan beberapa musala di Ancol (Jakarta), Cirebon, Tubar, Gresik, Surabaya, serta Bangil. Ekspedisi Cheng Hoo berlangsung 83 tahun sebelum Bartolomeus Diaz mencapai Tanjung Harapan di Afrika Selatan (1488). Juga lebih dulu ketimbang ekspedisi Vasco da Gama (1498), Columbus (1492/1493), atau Magelhaens (1421). Atas jasa-jasanya itu, Cheng Hoo yang bernama asli Ma Hoo mendapat penganugerahan Marga Zhenq (Cheng) oleh Kaiser Ming pada tanggal 1bulan 1 tahun 02 Yong Le. Karena itu, nama lengkapnya menjadi Ma Cheng Hoo. Di luar itu, Cheng Hoo adalah tokoh syiar Islam yang patut diteladani dan di banggakan setiap muslim di mana pun. Tak berlebihan kalau Cheng Hon diabadikan menjadi nama masjid, lengkap dengan replika kepalnya. Jadi Rujukan Para Mualaf SEJAK diresmikan pada 2003, Mesjid Cheng Hoo telah menjadi pusat dakwah dan syiar Islam yang efektif. Buktinya, banyak sekali mualaf yang mengucapkan dua kalimat syahadat di sini. Menurut Ira (27), yang menangani kesekretariatan Masjid Cheng Hoo, tahun lalu tercatat 55 orang yang menyatakan memeluk Islam di masjid berarsitektur Thiongkok tersebut. Hingga pertengahan 2008 sudah ada 15 mualaf. Semuanya keturunan Tionghoa. "Mereka yang menjadi mualaf kebanyakan 90 persen dulunya Nasrani " jelasnya. Sisanya berasal dari agama-agama lain yang ada di Indonesia. Mereka menyatakan memeluk agama Islam ka rena kosadaran sendiri, tanpa paksaan. "Ini Samua karena hi dayah Allah," tutur Ira. Untuk pembinaan mualaf, pengelola Masjid Cheng Hoo ini menyiapkan ustadz khusus setiap Sabtu, pukul 16.00 WIB. Pembinaan rutin ini diakhiri dengan salat berjemaah. "Kita ingin terus mendampingi para mualaf itu agar iman Islamnya semakin kuat,” tandas Ustadz Ahmad Haryono. Diilhami Masjid di Beijing MESKI didukung para pengusaha Muslim Tionghoa, proses pembangunan Masjid Cheng Hoo berlangsung cukup alot. Mula-mula dibentuk Yayasan HM Cheng Hoo pada 5 April 1995. Jumlah pendiri 13 orang. Selain Bambang Sujanto, ada nama Abdul Rahman, Djoko Wijaya, Abdul Chalim, M Trisno Adi Tantiono, Fauzan Adjie Chendra, Burnadi, Ahmad Syaukanie Ong, Anshary Thayib, Ma'mun Hasan, Guntur Salahuddin, Nursalim Sholeh, Ali Suseno Andy, dan M Luthfillah Masduqie. Atas gagasan Bambang dan pengurus Pembina lman Tauhid Islam (PITI),Yayasam HM Cheng Hoo berencana membangun masjid berarsitektur Tiongkok dengan nama sama: Masjid Muhammad Cheng Hoo. Pembangunan masjid diawali pada 15 0ktober 2001 dengan peletekan batu pertama yang dihadiri sejumlah tokoh Tionghoa Kota Surabaya. Yang menarik, para tokoh ini tidak semuanya beragama Islam. Sebut saja Liem Ou Yen (Ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya), Bintoro Tanjung (Preskom PT Gudang Garam, Tbk), Henry J Gunawan (Direktur PT Surya Inti Permata, Tbk), dan Bingky Irawan (Ketua Makatin Jawa Timur). Rancangan awal Masjid Chenq Hoo diilhami arsitektur Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada 996 Masehi. Kamudian, pengembangan desain arsitekturnya dilakukan Ir Aziz Johan (anggota PITI Bojonegoro) dan didukung tim teknis. HS Willy Pangestu, Donny Asalim, Tony Bagyo, serta Rachmat Kurnia dan pengurus PITI Jatim dan Yayasan HM Cheng Hoo Indonesia. |