Di Semenanjung Chooson, sebagian orang Korea memandang curiga kepada China. Para keturunan beruang Ung Nyeo itu khawatir sewaktu-waktu Sang Naga yang kembali bangkit akan menerkam ke utara. Oleh KRIS RAZIANTO MADA
 China dan Korea Selatan (Korsel) memang rukun dalam soal perdagangan. Korsel malah lebih sering menikmati surplus perdagangan terhadap China. Namun, itu tidak cukup menghapuskan kecurigaan terhadap China. Fakta bahwa China masih komunis menjadi alasan utama kecurigaan Korsel. Bagaimanapun, sudah bertahun-tahun Korsel terpaksa berseteru dengan saudara mereka di utara, Korea Utara, yang juga komunis. Namun, perseteruan itu tidak terasa di Kompleks Masjid Cheng Hoo, Surabaya, Rabu (23/5). Tiga anggota delegasi Distrik Yeonje, Busan, berkunjung ke masjid yang dibuat untuk menghormati Laksamana Cheng Hoo itu. Para pengurus masjid menyiapkan tarian yang dibawakan pelajar TK di kompleks masjid tersebut. Tari Ning Centil itu dibawakan dengan semangat di hadapan Kim Ku Han, Jang In Young, dan Hur Jum Sang. Kim bahkan menyalami beberapa penari kecil itu. Justru pengurus masjid mencegah murid-murid itu menari terlalu dekat dengan rombongan. Kim juga bersalaman dengan beberapa pelajar TK yang mengenakan busana tradisional Jatim. Kedua pelajar itu menyerahkan cendera mata dari pengurus Masjid Cheng Hoo kepada delegasi. Meski tidak saling mengerti bahasa masing-masing, delegasi Korsel dan pengurus masjid berusaha terus berhubungan. Delegasi juga tidak keberatan diajak meninjau bagian dalam masjid. Berfoto di halaman masjid yang panas juga dilakoni. Hanya suguhan jajanan pasar yang kurang dinikmati. Namun, itu mungkin lebih disebabkan selera yang berbeda. Pengurus masjid sudah berselera Pasar Atum Surabaya, sementara delegasi Korsel lebih suka masakan berbumbu banyak bawang putih. Perwakilan Asosiasi Korea di Surabaya Lee Min Soo menuturkan, kunjungan ke masjid itu lebih untuk melihat asimilasi Tionghoa di Indonesia. Di Surabaya, tidak ada simbol lebih tepat dari masjid itu. "Delegasi juga berkunjung ke beberapa tempat lain," katanya. Delegasi itu sebenarnya ingin menjajaki kerja sama dengan Kecamatan Genteng. Pasalnya, Yeonje memiliki beberapa kesamaan dengan Genteng. Yeonje menjadi pusat kota Busan dan Genteng dianggap pusat Surabaya, setidaknya bila diukur dari fakta Pemerintah Kota Surabaya dan gedung DPRD Surabaya berada di Genteng. "Surabaya dan Busan sudah menjalin hubungan sebagai kota kembar. Ini akan menjadi kerja sama lebih mikro," tutur Lee. Pengurus Masjid Cheng Hoo, Makmun Hasan, mengemukakan bahwa kunjungan itu menunjukkan Masjid Cheng Hoo sudah dikenal di berbagai negara. Masjid itu juga bisa dijadikan contoh bahwa pembauran akan lebih baik bagi masyarakat heterogen. Memang bukan delegasi yang berinisiatif berkunjungke masjid itu. Kunjungan itu diatur Dinas Pariwisata Surabaya. "Kami diberi tahu dua minggu lalu kalau ada rombongan dari Korea mau berkunjung. Kami tentu menerima dengan senang hati," tuturnya. Tionghoa dan Korea memang berseteru di Semenanjung Chooson atau Semenanjung Korea. Di Ujung Galuh atau Surabaya, mereka bersalaman dan berjalan dengan damai. Sumber: Kompas, Kamis, 24 Mei 2007 |