
Sama sama sebagai orang asing, maka orang akan tahu, siapa Jan Pieterson Coon, Daendels dan Cheng Hoo. Mereka sama-sama pernah ke Indonesia, tetapi dengan misi yang beda.Mereka mengenal Indonesia, sebagai sebuah negara dengan kekayaan alamnya melimpah. Mereka mengenal akan kelemah lembutan masyarakatnya dan sebagainya.
Jan Pieterson Coon adalah petinggi militer Belanda yang mau datang ke Indonesia dengan misi untuk mengeduk kekayaan negeri ini. Dan dia berhasil, karenanya selama 350 tahun kukunya ditancapkan dinegeri ini tanpa mengenal "hak azasi manusia", dan dengan seenaknya mengeruk kekayaan negeri ini untuk kemakmuran negerinya. Karena dia adalah seorang penjajah.
Demikian juga Daendeles, orang Inggris yang juga merebut Indonesia dari kekuasaan Belanda. Tetapi tidak berhasil, akibatnya hanya mampu beberapa tahun di negeri ini. Indonesia memang menjadi sasaran kaum penjajah untuk mengeduk kekayaan alamnya. Bangsa bangsa lain didunia, masih banyak yang mengincar negeri ini untuk menjadi negara jajahannya.Tidak juga negara serumpun Asia, seperti Jepang ingin juga memanfaatkan negeri ini sebagai negeri jajahannya. Mereka tak berhasil, hanya mampu menduduki seumur jagung.
Tentunya semua tahu, bahwa Indonesia memang benar benar sebagai mutu manikam yang membuat negara lain tergiur untuk menjajahnya. Memiliki kekayaan yang luar biasa besarnya disamping secara geografis merupakan daerah yang strategic dilihat dari segala kepentingan.
Tetapi apa bedanya Laksamana Cheng Hoo yang boo tahun lalu datang ke Indonesia dengan orang orang Belanda, Inggris dan Jepang? Tentu saja sangat berbeda. Cheng Hoo datang bukan untuk merampas kekayaan atau ingin menjajah negeri ini menjadi negara kekuasaannya. Tidak! Cheng Hoo datang untuk maksud melihat dari dekat negeri kaya ini di samping (yang utama) untuk menyebarkan syiar Islam.
Masyarakat muslim khususnya mengetahui, bahwa Cheng Hoo adalah perwira tinggi andalan di zaman dinasti Ming. Ia datang ingin merajut silahturahmi dan persahabatan. Dia datang tidak dengan membawa senjata.Dia datang dengan membawa iman. Dengan misi yang mulia itu, tentunya akan berlanjut dengan hubungan perdagangan dan hubungan lain yang bersifat kebersamaan serta menguntungkan kedua negara.
Itu sebabnya, tatkala misinya datang bukan letupan senjata yang terdengar, tetapi sorak sorai masyarakat pesisir dengan gegap gempita. Hubungan baik itu ditunjukkan dalam sejarah, betapa harmonisnya hubungan dengan kerajaan kerajaan di Indonesia, seperti kerajaan Majapahit, bahkan puteri Campa telah dipersunting Raja Majapahit, dimana kemudian menurunkan Raden Patah, Sunan Ampel dan Sunan Giri. Hubungan antar bangsa akhirnya membuahkan hubungan persaudaraan yang begitu akrab.
 Memang begitu mengesankan kedatangan Cheng Hoo ke Indonesia, bahkan sampai sekarang rasa hormat padanya sangat tinggi. Penghormatan yang tinggi itu dapat diwujudkan dalam bentuk pembangunan monumen dan prasasti tidak hanya dibangun di satu tempat, tetapi juga ada di tempat napak tilasnya. Bahkan Surabaya, telah memiliki kenangan tersendiri dengan adanya masjid Cheng Hoo yang bukan saja milik masyarakat Tionghoa atau masyarakat muslim saja, tetapi untuk seluruh masyarakat pada umumnya. Bahkan keberadaannya menjadi obyek wisata bagi wisatawan domestik ataupun mancanegara. Tentu saja hal demikian sangat membanggakan warga Surabaya khususnya dan Jawa Timur pada umumnya.
Tetapi sebenarnya lebih dari itu, yang sangat mendalam dengan muhibah Cheng Hoo ke Indonesia itu, ialah betapa tinggi nilai persahabatan, yang tanpa dilandasi hal hal yang bersifat duniawi dan keserakahan sebagai manusia. Kejadian yang sudah 600 tahun lalu menghasilkan,persahabatan yang begitu harmonic antara Indonesia dan Tiongkok sampai saat sekarang, kendati hal demikian juga banyak yang mencemohkannya.
Pelajaran yang bisa diambil dari Cheng Hoo tersebut juga mengingatkan kepada kita,bahwa meski ada perbedaan etnis tetapi kesatuan iman akan membuahkan hal yang sangat menguntungkan. Itu sebabnya, mungkin secara pribadi pribadi kita juga dapat belajar darinya. Kita tidak perlu lagi menjadikan diri kita sebagai sosok atau kelompok eksklusif, tetapi kita barns bisa bermasyarakat dan selalu bersilahturahmi seperti yang dilakukan Cheng Hoo.
Kedatangannya ke Indonesia, Cheng Hoo tidak berniat menjajah juga dapat ditrapkan pada diri pribadi kita sendiri, bahwa terhadap siapapun kita tak bisa melaksanakan "penjajahan" terhadap orang lain. Apakah itu dengan orang perorang,kelompok ataupun dalam lingkungan keluarga. Kita tidak bisa melakukan perbuatan seenaknya (mejajah) pada orang orang yang ada dibawah kelas kita,seperti pembantu,pekerja dan sebagainya. Kita, meski memiliki kelebihan diatas mereka,tetapi kita harus mampu menghargai sebagai manusia yang beriman. Harus tidak ada penjajahan dalam rumah ataupun perusahaan.
Laksamana Cheng Hoo telah memberikan teladan kepada kita, baik pribadi ataupun kelompok. Jangan merasa arogan pribadi kita pada orang lain.Jangan merasa diri kita "paling", karena Allah adalah yang Paling segalannya. Dimata Allah kita sebagai umatNya adalah sama. Tidak ada bedanya.
Cheng Hoo adalah sosok yang mengagumkan dan telah memberikan contoh kebaikan pada kita. Kita harus mampu mengikuti keteladanannya dan tidak hanya membangun prasasti tanpa memiliki arti bagi kita. Keteladanannya harus diresapi dengan mendalam. Dia orang Tionghoa, tapi mampu menempatkan diri di Indonesia. Bagaimana dengan kita?
H.Soeharto |
|
|